Beirut – Infopalestina: Berbagai seruan dari lembaga dan partai baik berbasis Arab atau Islam di dalam dan luar Palestina mengeluarkan penyataan menjadikan hari Selasa ini (16/3) sebagai “hari murka dunia” terhadap Israel untuk membela masjid Al-Aqsha dan kota Al-Quds. Hal ini bersamaan dengan pengumuman Israel membangun kuil mitos mereka yang bersamaan dengan peresmian sinagog Haroob di dekat masjid Al-Aqsha. Badan Perkumpulan Ulama Palestina di luar negeri menyerukan kepada Liga Arab dan OKI untuk mengumumkan hari Selasa sebagai Hari Dunia untuk Membela Al-Aqsha dan semua tempat suci. Pada saat yang sama mereka menyerukan kepada semua bangsa Arab dan umat Islam di seluruh dunia untuk turun ke jalan mendukung warga Palestina dan kota suci. Hal itu dilakukan sebagai deklarasi kepada Israel bahwa melecehkan masjid Al-Aqha sama saja melecehkan semua muslim di dunia dan tindakan itu berarti menyulut kemarahan terhadap mereka. Badan Ulama menilai bahwa pembangunan sinagog Haroob sebagai langkah kejahatan terhadap masjid Al-Aqsha, yahudisasi Al-Quds, dan bahwa konspirasi Israel ini terjadi di tengah diamnya dunia Arab resmi setelah mereka memberikan lampu merah untuk melakukan perundingan tidak langsung. Karenanya, mereka menyerukan agar semua perundingan dengan Israel dihentikan dan kepada semua warga Palestina untuk pergi ke masjid Al-Aqsha dan berjaga di dalamnya untuk menghadapi serangan apapun yang akan dilakukan oleh Israel. Selain itu, gerakan Islam Jordania (Partai Buruh islam dan Jamaah Ikhwanul Muslimin) mengumumkan hari Selasa ini sebagai kemarahan dunia untuk membela tempat suci di Palestina. Dalam pernyataannya kemarin Senin (15/3) mereka meminta pentingnya umat untuk menghimpun energinya dalam mendukung program perlawanan hakiki dan serius untuk membela tempat suci yang saat ini sedang mengalami ancaman berbahaya. Sekjen Partai Buruh, Dr. Ishak Farhan menegaskan bahwa politik dunia Arab resmi saat mengalami kehancuran dalam menghadapi Israel yang menggasap Palestina dan tidak merepresentasikan sikap bangsa Arab dan Islam yang sebenarnya. Ia menegaskan bahwa Intifadhah Al-Aqsha III akan segera meletus meski upaya yang dilakukan Otoritas Palestina terus menghambat aksi ini dengan cara mengejar pejuang Palestina dan membunuh mereka atau menyerahkan kepada musuh. Farhan mengisyaratkan bahwa Jordania bertanggungjawab penuh mengembalikan tanahnya yang dijajah terutama Al-Quds. ia meminta kepada pemerintah Jordanai untuk membatalkan perjanjian Wadi Arabah dan mengusir dubes Israel dari Amman dan meminta agar melarang warga Israel masuk ke Jordania. Farhan juga meminta agar pemerintah Jordania mengizinkan pimpinan Hamas dan ketua gerakan Islam di Palestina ’48, Raid Shalah atau Kamal Khateeb untuk masuk ke Jordania. Farhan juga meminta agar Jordania untuk menarik diri dari prakarsa Arab untuk perdamaian. (bn-bsyr)
|