Cari
Basam Sayih Penderitaan Tanpa Batas
Basam Sayih Penderitaan Tanpa Batas
[ 20/09/2011 - 07:16 ]

 

Amir Ali

Da’wah Islam berjalan dibawah taqdir, pertolongan dan pemeliharaan dari Allah SWT. Allah yang akan mengirimkanya kepada siapa yang membawa dan mempersembahkan apa yang mereka miliki demi berjalannya da’wah tersebut. Nyawa dan harta berikut istri dan anak mereka persembahkan demi jalan da’wah ini. Kalaulah kami ceritakan kisah-kisah mereka yang telah menempuh jalan ini, tentu tidak akan pernah cukup kata-kata maupun tinta untuk menuliskan kisah kepahlawanan, keteguhan dan prinsip-prinsip mereka dalam memegang hak-haknya, bersamaan dengan penderitaan, kepedihan dan kesengsaraan mereka di dalam mengemban amanah dakwah ini.

Basam Amin Sayih contohnya. Seorang mujahid dan da’I asal Nablus yang dibesarkan di keluarga taat agama, senantiasa menjunjung akhlaq mulia dan sangat cinta pada da’wah Islam ini. Sejak kecil Basam tak jauh hidupnya dari Masjid Rasul Ain, dimana ia tinggal. Bagaimana tidak, karena keluarganya terkenah sebagai pendiri Hamas di daerah tersebut. Di Masjid Shalahuddin, Bassam dididik dan dibesarkan. Kemudian ia melanjutkan pendidikanya di sekolah Nablus, lalu mendaftar di universitas Nasional Al-Najah jurusan jurnalistik. Di sinilah ia bergabung dengan mahasiswa, gerakan Islam yang anggotanya banyak yang gugur syahid serta sebagianya ditawan. Basam adalah salah satunya. Setelah ia lulus kuliah dari jurusan Jurnalistik, lalu melanjutkan kuliah S2 di jurusan perencanaan dan pengembangan politik untuk mengimbanginya dengan ilmu jurnalistik yang telah dimilikinya. Perlu diketahui, ia adalah adik kandung dari tawanan pemimpin Al-Qossam, Amjad Sayih yang divonis 20 tahun penjara oleh Israel.

Basam pertama kali ditangkap dan ditahan oleh aparat otoritas Oslo pada tahun 1996. Di sanalah ia mengalami penyiksaan yang sangat keras. Saking kerasnya dalam salah satu interogasi terhadapnya, ia membantah mempunyai saudara bernama Amjad. Kemudian pada tahun 1998, ia kembali ditangkap dan terpaksa mendekam selama beberapa bulan lamanya di penjara otoritas Fatah. Pada tahun 2001 ia juga ditangkap saat bersama temanya yang meninggal syahid, Muhammad Hanbali oleh dinas intelijen Tepi Barat. Pada tahun 2002 satuan khusus Israel menyergap Basam di pintu masuk Kota Lama di Nablus untuk kemudia ditahan selama lebih dari satu tahun setengah dengan status tawanan administrasi.

Pada tahun 2007, saat gelombang serangan yang dilakukan aparat Fatah secara besar-besaran terhadap anggota dan simpatisan Hamas di Tepi Barat, Basam kembali ditangkap. Ia terpaksa mendekam lagi di penjara Fatah selama lebih dari dua bulan di ruang tahanan isolasi, mengalami penyiksaan dan intimidasi luar biasa dari aparat keamanan. Saking kerasnya penyiksaan, sampai-sampai ia tak bisa berjalan selama beberapa bulan. Hal yang sama terjadi lagi pada tahun 2008, hanya berselang delapan hari pasca pernikahanya, ia kembali masuk penjara Al-Junaid yang sudah sangat familiar dengan dirinya. Mengecap penyiksaan dan penderitaan yang dinikmatinya, akibat kedengkian sebagian orang. Namun ia telah didik untuk dapat menikmati penyiksaan selama beberapa tahun lamanya. Namun jangan harap ia dapat mengubah niat ataupun prinsipnya. Setelah 5 bulan lamanya dibawah penyiksaan biadab, para interogator gagal mengorek informasi dari Bassam. Kamudian ia dipindahkan ke penjara Jericho, hingga darah mengucur deras dari punggungnya selama beberapa hari di dalam penjara isolasi. Tapi Basam tetap Basam tak pernah dan tak kan berubah.

Pada tahun 10/9/2011, dinas penjaga keamanan di Nablus kembali menangkapnya setelah rumahnya di Ras Ain disatroni aparat. Kemudian ia dipindahkan ke penjara Al-Junaid. Bassam yang menjabat sebagai direktur umum koran Palestina mnderita keseleo tulang belakang dan kehilangan kemampuan untuk memiliki anak akibat penyiksaan Nazi dari tangan orang-orang yang berbicara dengan bahasa Arab dan hidup di antara bangsa Arab serta dan menggambarkan dirinya sebagai bangsa Palestina,  sementara bangsa tak pernah mengakuinya. 
Suatu saat tentara Allah akan menghancurkan mereka, dengan api, atau kematian atau penyiksaan. Kami adalah tentara, walau kami ditahan dan dipenjara, da’wah kebenaran berada di atas penjara dan penindasan. (asy)

Page Top

 Palestina dalam Tayanggan Slide