Cari
Syekh Raed Shalah: Kunjungan ke Al-Quds Hanya Berpihak kepada Israel (wawancara)
Syekh Raed Shalah: Kunjungan ke Al-Quds Hanya Berpihak kepada Israel (wawancara)
[ 09/05/2012 - 04:01 ]

 

Al-Quds – PIP: Ketua Gerakan Islam di Palestina Dalam (jajahan 1948) menegaskan bahwa kunjungan tokoh-tokoh Arab resmi ke kota Al-Quds (Jerusalem) yang secara defacto dijajah oleh Israel hanya akan memberikan manfaat kepada penjajah Israel. Bahkan itu semua sudah dirancang oleh program zionis dan bukan kunjungan yang mendukung Al-Quds dan Al-Aqsha.

Dalam wawancara ekseklusif dengan Pusat Informasi Palestina kemarin Sabtu (5/5) Syekh Shalah menegaskan bahwa penjajah Israel hidup saat ini dalam histeria untuk meyahudikan Al-Quds dan membangun kuil mitos. Ia menegaskan bahwa larangan Israel masuk ke Al-Quds dan Al-Aqsha tidak akan mematahkan spirit dan semangatnya. Bahkan pihaknya akan tetap tegar dan yakin bahwa Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha akan menang sepanjang sejarah saat ini dan yang akan datang.

Terkait tindakan Israel terhadapnya, Syekh Raed Shalah menegaskan, pihaknya sampai sekarang dilarang masuk Masjid Al-Aqsha dan kota Al-Aqsha untuk berdasarkan perintah militer Israel sampai 10 Juni dan pihaknya akan menghadapi empat kasus hukum dalam beberapa waktu mendatang.

Ia menambahkan bahwa sudah sangat jelas penjajah Israel hidup dalam keadaan kacau dan terombang-ambing karena tindakannya terhadap kota suci Al-Quds dan Al-Aqsha. Penyebabnya sederhana, Israel sadar dan takut atas naiknya kelompok Islam ke pemerintahan Arab.

Berikut petikan wawancaranya:

PIP: bagaimana perkembangan terakhir terkait kasus yang Anda hadapi di Inggris dan pelarangan Israel untuk berkunjung di Masjid Al-Aqsha?

RS: Hingga sekarang saya masih dilarang masuk ke kota Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha berdasarkan intruksi militer Israel sampai 10 Juni dan pihaknya akan menghadapi empat kasus hukum dalam beberapa waktu mendatang. Terkait kasus, saya akan hadapi dalam bulan-bulan mendatang dengan empat kasus; kasus lembah Al-Jaoz, kasus Hilwani, kasus jembatan baru, dan kasus terkait banding terhadap keputusan pengadilan. Ketika kasus Armada Kebebasan “freedom flotilla” ditutup ada tuntutan membuka kasus ini dalam memperkarakan saya dan anggota parlemen dari Palestina di Knesset Hanen Za’bi. Terkait kasus saya di Inggris, Allah telah memuliakan kami dengan pertolongan yang besar dalam kasus ini. mahkamah Inggris memutuskan untuk mendeportasi saya adalah keputusan inkonstitusional. Sekarang kami telah pindah dari fase pembelaan kepada fase menyerang baik dalam kasus Inggris. Kami akan ajukan tuntutan ganti rugi dari sejumlah pihak di Inggris mencakup beberapa media yang memusuhi kami, kelompok zionisme yang mengirim surat tulisan tangan yang menyesatkan kepada kementerian dalam negeri yang meminta agar mendeportasi saya dan mencekal masuk Inggris. Pihak ketiga, kami mempelajari kemungkinan permintaan ganti rugi dari kementerian dalam negeri Inggris. Disamping itu, kami sedang mempelajari kemungkina mengatukan tuntutan kepada Israel karena telah mengeluarkan dokumen resmi yang anti terhadap masalah saya di Inggris.

PIP: Apa komentar Anda atas keputusan pelarangan masuk ke Al-Quds dan Al-Aqsha yang bertentangan dengan hukum internasional?

RS: Sudah jelas bahwa watak Israel dalam menyikapi masalah Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha tidak berdasarkan kepada hukum internasional apapun atau hukum regional. Bahkan Israel tunduk kepada target-target percepatan yahudisasi Al-Quds dan penguasaan terhadap Al-Aqsha untuk membangun kuil mitos dengan mengorbankan Al-Aqsha. Israel sangat jelas penjajah Israel hidup dalam keadaan kacau dan terombang-ambing karena tindakannya terhadap kota suci Al-Quds dan Al-Aqsha. Penyebabnya sederhana, Israel sadar dan takut atas naiknya kelompok Islam ke pemerintahan Arab. Kami katakan kepada Israel bahwa itu adalah ilusi sebab penjajahan Israel itu tanpa kedaulatan dan legalitas.

PIP: Apa respon balik keputusan Israel terhadap Anda daterkait peran Anda di Al-Aqsha dan aktivitas membela Al-Quds?

RS: Kami berjuang dan bertindak seperti kami berada di dalam Al-Quds dan Al-Aqsha. Alhamdulillah, kami selalu melakukan komunikasi dengan warga di Al-Quds dan lembaga yang berada di wilayah Palestina jajahan tahun 1948 untuk membela Al-Quds dan Al-Aqsha.

Pelarangan yang ditetapkan kepada saya oleh Israel adalah bagian dari pelarangan yang diterapkan kepada jutaan warga Palestina dan syekh Ikrimah Shabri, khatib Masjd Al-Aqsha. Kami akan semakin kuat dalam berjuang dengan tindakan pelarangan Israel ini. kami yakin akan menang dalam waktu dekat.

PIP: Bagaimana Anda melihat terhadap apa yang dialami oleh kota Al-Quds dan proses yahudisasi dan serangan-serangan terhadap Masjid Al-Aqsha?

RS: Israel sangat jelas penjajah Israel hidup dalam keadaan kacau dan terombang-ambing karena tindakannya terhadap kota suci Al-Quds dan Al-Aqsha. Penyebabnya sederhana, Israel sadar dan takut atas naiknya kelompok Islam ke pemerintahan Arab. Situasinya kini tidak sama dengan kondisi di tahun 2010. Kehendak rakyat dan publik Arab kini yang sedang berkuasa dan bukan rezim yang cenderung membela kepentingan penjajahan dan menghalangi untuk membela Palestina, Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha.

Israel sekarang dalam kondisi terpedaya dengan penuh kebodohannya. Mereka sangat sadis dalam melakukan tindakan anti Al-Quds dan masjid Al-Aqsha. Kami yakin penjajahan Israel pasti akan hilang. Yahudisasi akan hilang. Al-Quds dan Al-Aqsha akan mendapatkan keadilan sejarah.

Saya pastikan bahwa hari-hari ke depan kita akan menyaksikan hancurnya penjajah zionis Israel dari Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha.

PIP: Ada polemik belakangan soal kunjungan ke Al-Aqsha oleh sebagian tokoh yang masuk frame normalisasi. Bagaimana Anda melihatnya?

RS: Sudah kentara bahwa kunjungan itu berarti memperoleh izin dari penjajah Israel untuk masukd Al-Aqsha. Itu artinya, para tokoh Arab dan Islam itu mendapatkan pengawalan keamanan dari intelijen Israel. Sayangnya mereka masuk melalui gerbang Magharibah yang dikuasai oleh Israel sejak tahun 1967. Di sanalah pintu masuk kelompok pemukim Israel dan para turis. Jadi sangat aneh tokoh-tokoh Arab dan Islam itu masuk melalui gerbang itu.  

kunjungan tokoh-tokoh Arab resmi ke kota Al-Quds (Jerusalem) yang secara defacto dijajah oleh Israel hanya akan memberikan manfaat kepada penjajah Israel. Bahkan itu semua sudah dirancang oleh program zionis dan bukan kunjungan yang mendukung Al-Quds dan Al-Aqsha. Buktinya, Israel membolehkan masuk ke Al-Aqsha namun dilarang mengetahui lebih jauh terhadap warga Palestina di Silwan, Syekh Jarrah, Raas Amud, Bet Shafafa, Isawiyah dan tempat yang penuh dengan tragedi dan penderitaan akibat penjajahan Israel.

Melalui kunjungan ini, Israel ingin menunjukkan mereka memiliki kedaulatan palsu. Israel ingin mengubah Al-Quds dan Al-Aqsha sebagai tempat terjajah yang harus mendapatkan kemerdekaan menjadi masalah “administrasi agama” artinya secara administrasi Israel memiliki wewenang mengendalikan Arab dan Umat Islam jika ingin berkunjung ke sana.

PIP: Apa komentar Anda terhadap mogok makan para tawanan Palestina di penjara Israel?

RS: Semua warga Palestina menilai bahwa masalah tawanan adalah prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar, disamping masalah hak kembali pengungsi Palestina, Al-Quds, Al-Aqsha, kedaulatan Palestina. karena itu kami mendukung aksi mogok makan dan melakukan solidaritas terhadap aksi mereka.

Ada dua hal yang kami inginkan dalam solidaritas aksi mogok makan tawanan Palestina; pertama, kami ingin semua tawanan Palestina hidup bebas dan mulia meski berada di dalam penjara sebagaimana orang hidup di luar penjara. Kedua, kami yakin bahwa tidak mungkin memecahkan masalah Palestina kecuali dengan membebaskan seluruh tawanan Palestina dari penjara Israel dan solusi mendasar tawanan itu adalah menghilangkan penjajahan Israel.

PIP: Bagaimana Anda melihat masalah rekonsiliasi Palestina antara Hamas dan Fatah?

RS: Saya tegaskan bahwa asal muasal persatuan Palestina itu ada. Setiap rumah Palestina di Palestina menggambarkan persatuan ini. Di dalam setiap rumah Palestina selalu ditemukan pluralitas politik antar anggota keluarganya. Seharusnya itu disempurnakan dalam arena politik antar faksi dalam mengadapi penjajah Israel.

Bukan berarti masing-masing faksi melebus jadi satu. Namun seharusnya yang terjadi adalah transisi dari fase penegasan itikad baik kepada realisasi kesepahaman yang disepakati dalam lebih dari satu pertemuan yang sudah pernah ada yang semuanya demi proyek persatuan Palestina. (bsyr)

Page Top


 Palestina dalam Tayanggan Slide