Cari
Hamdan: Hamas Sikapi Masalah Tahanan dengan Tanggungjawab Nasional
cetakan E-Mail
Seru Efektifkan Perlawanan dan Peran Arab
Hamdan: Hamas Sikapi Masalah Tahanan dengan Tanggungjawab Nasional
[ 25/11/2009 - 03:30 ]

   

Damaskus – Infopalestina: Usamah Hamdan, delegasi Hamas di Libanon menegaskan, gerakannya memembuat syarat-syarat untuk menyelesaikan perjanjian pertukaran tahanan dengan Israel dan menyikapi ini dengan penuh tanggungjawab nasional jauh dari kepentingan partai. Ia menyerukan agar dilakukan rekontruksi proyek nasional dan mentranformasi proyek perundingan politik kepada proyek perlawanan yang integral.

Dalam ceramah yang disampaikan kemarin Selasa (24/11) di Pusat Budaya Palestina dalam rangkaian pekan solidaritas Palestina yang diselenggarakan oleh Komunitas Hak Kembali Palestina dan Kampanye Swasta Suriah untuk Perayaan Al-Quds Ibukota Budaya Arab tahun 2009, Hamdan menegaskan, manfaat rekonsiliasi ada dua; pertama pilihan nasionalis Palestina yang didasarkan kepada prinsip pembebasan dan hak kembali dan kedua pilihan rakyat Palestina bukan mendirikan negara Palestina saja namun membebaskan negerinya dan mengembalikannya kepada rakyat.

Ia menegaskan, kelompok perlawanan adalah yang melepaskan ajakan dialog karena itu termasuk tanggungjawab mereka namun pihak lain justru merespon dengan sebuta macam-macam kemudian memecah belah rakyat. “Padahal kami hanya ingin menyatukan rakyat Palestina” tegasnya.

Hamdan menegaskan, agenda Amerika dan Israel menjadi penghalang dialog Palestina. Sebab salah pihak menghindar dari apa yang sudah disepakati dari syarat-syarat kemudian memilih syarat tim kuartet internasional dengan alasan itu Amerika menolak syarat perlawanan Palestina dan Israel meminta syarat tim kuartet.

“Mereka (pihak Otoritas Palestina) sudah mengatakan kepada kami dengan jelas bahwa tidak pemerintahan jika tidak menyetujui syarat tim kuartet yakni mengakui Israel, membuang cara-cara kekerasan, mengakui kesepakatan yang pernah diteken dengan Israel. Adapun badan keamanan yang kami minta agar menjadi badan nasional yang professional yang perannya menjaga rakyat Palestina dan bukan menjaga Israel, pihak tim Abbas mengatakan, apa yang dilakukan jenderal Amerika Dayton tidak ada kaitannya dengan dialog namun bagian dari komitmen perundingan dengan dan masyarakat internasional dan bahwa rekonsiliasi tidak berarti menghentikan program keamanan yang dipimpin Dayton.” Imbuh Hamdan.

Soal niat Abbas tidak ingin mencalonkan diri lagi menjadi presiden, Hamdan mengomentari, pidato Abba situ sebagai penegasan matinya proses perundingan. “Dari pada ia mengatakan kepada rakyat Palestina, “kami salah” ia lebih menyindir dan merayu bahwa Israel dan Amerika tidak pernah apa-apa selama perundingan-perundingan yang sudah ada” tegas Hamdan.

Hamdan mengatakan, Abbas berusaha melakukan cara lama dengan cara mengancam untuk mundur, namun jawaban Clinton mengagetkan. “Jika Sharon mampu mengurung Abu Ammar (Yaser Arafat) maka Netanyahu juga tidak memiliki penghalang untuk itu,”tegas Clinton.

Dalam kondisi seperti ini, Hamdan menegaskan empat tema penting; keharusan rekontruksi proyek nasional, mentranformasi dari perundingan ke proyek perlawanan yang integral dan mengerahkan semua upaya dan energy untuk ini.

Saat ini menurut Hamdan, perlawanan Palestina mengalami hambatan namun bukan menghadapi dilemma. Sebab yang mengalami dilemma adalah Amerika yang tugasnya hanya menjaga keamanan Israel, menghadapi dilemma di Irak dan Afganistan dan krisis ekonominya di dalam negeri. (bn-bsyr)

Page Top

 
 
Israel Mau Apa?

Dr. Fayez Abu Shamalah

 



 

Jl. Mampang Prapatan XV no. 15A/3 Mampang Prapatan Jakarta Selatan 12760
Tel. 021-79192705