Teheran – Infopalestina: Khalid Misyal, ketua biro politik Hamas menegaskan, perjanjian pertukaran tawanan masih menghadapi sejumlah tantangan dan pihaknya sedang menunggu bisa terlampaui dan Israel harus merespon tuntutan Hamas. Ia mengisyaratkan bahwa mediator Jerman berperan penting dalam perjanjian pertukaran tawanan tersebut. Dalam konferensi persnya kemarin Selasa (15/12) di ibukota Iran, Teheran Misyal mengatakan, Israel menolak sebagian tuntutan Hamas semantara gerakan ini sendiri berkeras dengan tuntutannya. Sikap Hamas sendiri baik di dalam atau di luar negeri satu. Berbeda dengan apa yang disampaikan presiden Israel Simon Perez yang mengklaim bahwa elit Hamas di dalam negeri setuju dengan perjanjian pertukaran sementara di luar negeri menolaknya. Di sisi lain, Misyal menegaskan, gerakannya tidak akan menerima sesuatu yang bertentangan dengan undang-undang dasar Palestina yang menegaskan keharusan berhukum dengan pemilu legislatif dan presiden. Ia menyatakan, majlis parlemen sekarang ini akan tetap berjalan hingga digelar pemilu baru dan tidak ada satupun orang yang berhak menjadi pengganti dari majlis parlemen Palestina. “Kami menghargari sejarah PLO dan kami ingin mengembalikannya agar semua kelompok di Palestina bergabung. Sebab kini PLO tidak layak karena tidak adanya demokrasi.” Tegas Misyal. Ia menegaskan, Hamas kini bekerjasama dengan semua kekuatan dan faksi-faksi Palestina untuk membebaskan rakyat Palestina dari penjajahan Israel. Soal pertemuannya dengan elit Iran, Misyal menegaskan, Hamas berusaha membebaskan Jalur Gaza dari blokade. Selain itu, pihaknya juga membahas perluasan permukiman dan pengkotak-kotakan wilayah Tepi Barat, yahudisasi Al-Quds dan blokade Jalur Gaza, pembunuhan, penangkapan dan lain-lain. Ia menambahkan, serangan yang dilakukan oleh kelompok yahudi ekstrim terhadap Al-Quds yang bertujuan menista masjid Al-Aqsha sebagai awal membaginya seperti yang pernah dilakukan terhadap masjid Ibrahimi di Khalil untuk kemudian membangun sinagog mereka. (bn-bsyr)
|