Dr. Anis Mustafa al-Qasim Mukadimah Cita-cita terkenal mantan PM Israel Yishak Rabbin, ia berharap setiap pagi bangun tidur dan menemukan air laut Meditrania menenggelamkan Jalur Gaza. Rabbin tewas sebelum cita-cita terkabul. Namun cita-cita itu tidak mati pada saat si pemimpin tewas. Sebab Gaza menjadi problema sejak Israel berdiri dan harus diselesaikan. Wilayah ini harus dienyahkan secara fisik dan non fisik. Gaza menjadi problema bukan saja sejak Hamas muncul sebagai gerakan perlawanan. Sebab Rabbin bercita-cita seperti ini sebelum Hamas menang dalam pemilu 2006. Namun kemenangan Hamas kemudian menguasai pemerintah dengan tetap mempertahankan perlawanan menjadikan Israel semakin ngotot merealisasikan mimpi Rabbin dengan berbagai macam cara. Dengan kekuatan militer dan pembangunan permukiman, Israel gagal. Dengan bantuan jenderal Amerika Kyt Dayton yang membantu Otoritas Palestina di Ramallah, juga gagal. Israel menarik diri dari Jalur Gaza dan membekukan permukiman yahudi. Kemudian Israel mengisolasi Jalur Gaza baik daratan, laut dan udara. Tapi Jalur Gaza tidak takluk. Bumi ditembus, mereka bangun terowongan di bawah tanah. Sebuah perlawanan yang berani. Tak ada kata menyerah atau putus asa. Israel menggelar agresi brutal dengan senjata yang boleh dan dilarang dunia. Namun Jalur Gaza tetap tegar dan sabar. Warga Gaza dihadapkan dua pilihan; tunduk kepada Israel atau dihabisi secara massal dalam kondisi lapar, sakit dan tenggelam. Dari realitas ini, gagasan tembok baja dibangun di dalam tanah setelah dibangun pagar di atas tanah sepanjang perbatasan Mesir – Palestina dan semua perlintasan darat ditutup rapat. Namun blokade saja tidak cukup. Sebab semangat inovativ rakyat Gaza sudah membuktikan mampu menghalahkannya. Karenanya, cita-cita Rabbin menenggelamkan Gaza harus diwujudkan. Dari sini desain khusus tembok baja dirancang, seperti yang kita akan lihat. Melewati perlintasan Rafah Kalau cek poin (gerbang perlintasan) Rafah Mesir dibuka seperti halnya titik perbatasan dunia dibuka, tidak akan ada penggalian terowongan di bawah tanah. Jika dibuka, tidak perlu dibangun tembok baja atau pagar atau bangunan pemisah seperti kata Mesir. Namun agaknya ada komitmen rahasia kenapa Rafah tidak dibuka. Harian Al-Quds Arabi edisi 13 Januari 2010 dalam headline melansir ungkapan Menlu Mesir, Ahmad Abul Ghaith bahwa “Pembukaan Rafah secara resmi dan permanen berarti mengakui pemerintahan Hamas sebagai kekuatan penguasa Jalur Gaza. Jika itu terjadi, berarti Mesir tidak komitmen dengan Israel dan dunia internasional dalam hal ini diwakili Uni Eropa”. Aneh. Statemen Menlu Mesir ini justru melalaikan komitmen dengan Jalur Gaza dan warganya; komitmen hukum dimana Mesir secara hukum Rafah di bawah kekuasaannya beserta Jalur Gaza mendahului komitmen dengan Israel dan Uni Eropa. Sejak tahun 1948 hingga penjajahan Israel tahun 1967 dan sampai sekarang, Mesir bertanggungjawab atas urusan Jalur Gaza. Selain itu, maksud komitemen yang disinggung Abul Ghaith adalah kesepakatan perlintasan yang diteken Otoritas Palestina dan Israel. Namun itu khusus perlintasan-perlintasan Palestina, termasuk gerbang perlintasan Rafah Palestina, tidak ada kaitan dengan gerbang perlintasan Rafah Mesir. Pihak yang terkait dengan komitmen juga adalah Otoritas Palestina, Israel dan Uni Eropa. Mesir tidak ikut dalam perjanjian itu. Jadi pembangunan tembok baja Mesir yang menutup pintu masuk satu-satunya bagi Jalur Gaza dari dunia luar yakni terowongan bawah tanah bertentangan dengan hukum tanggungjawab Mesir terhadap Jalur Gaza. Mesir sebenarnya terkena delik hukum pidana dengan Israel dan Uni Eropa dalam melakukan sanksi massal terhadap warga sipil di Jalur Gaza untuk kepentingan politik. Mereka harus diberi sanksi hukum internasional dan hukum HAM. Sebab mereka mencegah masuknya hak makanan, obat-obatan. Padahal belakangan Uni Eropa menuntu Israel membuka blokade karena dianggap ilegal. Sebab UE mulai membebaskan diri dari tanggungjawab hukum internasional dan moral. Apalagi setelah keluar laporan Goldstone yang menganggap blokade Israel terhadap Jalur Gaza ilegal yang harus dimintai pertanggungjawab di depan pengadilan internasional dan negara-negara anggota kesepakatan Jenewa. Bukan hanya Goldstone yang menilai blokade Jalur Gaza sebagai ilegal. Inspektur PBB Prof. Richard Folk yang juga yahudi memiliki sikap sama. Dalam banyak laporannya kepada PBB, Folk meminta agar pejabat Israel diadili. Jika Israel tidak mengindahkan, Folk meminta agar dunia memboikot Israel secara ekonomi. “Blokade Israel terhadap Jalur Gaza tidak pernah ada sejak perang dunia dunia baik tingkat beratnya dan rentang waktunya. Ini blokade di jaman batu. Sebab warga Jalur Gaza akhirnya membangun rumah dengan tanah. ” tegas Flok. Langkah yang sama dilakukan oleh 54 anggota Kongres Amerika pada 12 Januari 2010 yang melayangkan surat resmi kepada presiden Amerika agar membebaskan Jalur Gaza dari blokade baik oleh Israel atau Mesir. Ada 10 hal saat ini harus diatasi di antaranya; kebebasan gerak dari dan ke Jalur Gaza, terutama pelajar, pasien, buruh, wartawan, yang bermasalah dalam keluarga, menyediakan air bersih, menyuplai bahan makanan dan pertanian, obat-obatan, peralatan kesehatan dan lingkungan sehat, bahan banunan, bahan bakar, speat part dan lain-lain. Jumlah anggota Kongres yang menempuh jalan berbeda dengan sikap Israel, Mesir dan Otoritas Palestina ini patut mendapat sorotan. Sebab mereka jumlahnya banyak dan mulai memperhatikan kondisi Jalur Gaza. Mesir Patuhi Amerika – Israel Keberhasilan warga Jalur Gaza dalam menghdapai blokade dengan menggali terowongan, meyakinkan pihak-pihak terkait untuk memaksa warga Jalur Gaza agar bertekuk lutut dan menyerah. Yakin dengan cara mencekik Jalur Gaza dengan menutup seluruh pintu masuk dari dunia luar. Pakar dunia Richard Folk yang menentang tembok baja Mesir mengatakan, “Saya rasa Mesir setuju dengan Amerika dalam desain pembangunan tembok yang tidak mungkin ditembus dan didesain agar menghentikan pembangunan terowongan.” Padahal terowongan itu hanya bisa mencukupi makanan dalam jumlah sedikit bagi warga Jalur Gaza. Tentu dalam hal ini pemetik buah kepentingan satu-satunya adalah Israel yang juga sebenarnya adalah pemrakarsa gagasan ini. Ehud Barack pernah menegaskan usai penarikan Israel dari Jalur Gaza bahwa pihaknya sudah menekan kesepakatan dengan Mesir, namun ia tidak merinci. Persiapan pembanguna tembok baja pernah ditegaskan Menlu Mesir bahwa itu sudah disiapkan selama setahun atau sejak agresi Israel ke Jalur Gaza. Apalagi anggota Amerika sudah menyatakan bahwa blokade Jalur Gaza itu diterapkan oleh Israel dan “Mesir”. Menlu Mesir pernah menyampaikan bahwa Mesir meminta kepada Amerika agar memasang peralatan kontrol dan pengintai radar elektronik di tembok baja yang mengepung Jalur Gaza. Namun anehnya, semua yang terkait dengan Palestina atau Mesir sendiri, negeri piramida itu selalu harus meminta izin dan kesepakatan dengan Israel dan Amerika. (bn-bsyr)
|