Doha-Infopalestina : Anggota biro politik Hamas, Muhammad Nasher menegaskan, gerakanya tetap pada pilihan untuk mengakhiri perpecahan internal sesuai dengan pandangan politik yang jelas dan tanpa dikte pihak asing. Hamas mengisyaratkan, rekonsiliasi masih menggantung disebabkan sikap Mesir yang memaksakan untuk menanda tangani revisi tersebut, walau Hamas telah memberikan berbagai catatan. Di samping itu, revisi tersebut muncul secara terpisah dari satu pihak saja, berdasarkan setandar perdamaian dan Tim Kuartet serta keompok Oslo. Dalam pernyataanya kepada Aljazirah.net, Kamis (19/11) Nasher menyebutkan, presiden demisioner Mahmud Abbas memandang rekonsiliasi sebagai tuntutan untuk merealisasikan perdamaian berikutnya. Sementara Hamas memandang rekonsiliasi sebagai tuntutan nasional berdasarkan persyaratan dalam negeri bukan pihak luar. Ia menambahkan, Hamas dalam hal ini masih berpegang teguh untuk mengantisipasi perpecahan yang tidak menguntungkan kecuali musuh Palestina yaitu Zionis. Maka menjadikan Tepi Barat tetap terjajah sebagai prasyarat untuk melindungi Entitas Zionis, disamping sebagai alasan melanjutkan blockade Gaza. Nasher menganggap perpecahan ini akan melanggengkan penderitaan rakyat Palestina di Gaza. Dimana 300.000 warga hidup tanpa perlindungan yang layak, sejak agresi Zionis awal tahun kemarin. Nasher menyebutkan, perlawanan adalah satu-satunya pilihan rakyat Palestina untuk membebaskan wilayah Palestina dan untuk menjamin kemuliaan ummat. Perlawanan telah terbukti dapat menghadapi serangan Zionis pada perang Gaza kemarin. (asy)
|