Gaza – Infopalestina: Pusat HAM Palestina atau PCHR (The Palestinian Center for Human Rights) menegaskan bahwa para wanita di Jalur Gaza tidak luput dari serangan Zionis Israel, "dengan kegigihan Israel menempuk kebijakan membunuh mereka, menggerebek dan menghancurkan rumah-rumah mereka, penyitaan tanah, penangkapan sewenang-wenang, pembatasan kebebasan bergerak dan penganiayaan di pos pemeriksaan di pintu masuk ke desa-desa dan kota."
PCHR, Rabu (25/11), menyatakan bahwa penderitaan perempuan Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza; terus meningkat akibat berbagai pelanggaran yang terus-menerus dilakukan penjajah Israel terhadap mereka. PCHR menyatakan bahwa tahun lalu ada dua faktor yang berdampak negatif pada kondisi para perempuan tersebut; yaitu blockade dan agresi Israel baru-baru ini di Gaza.
PCHR menyatakan bahwa penjajah Israel terus menahan puluhan wanita Palestina dalam penjara. Mereka menghadapi keadaan yang keras dan sangat sulit sebagai akibat buruknya penahanan mereka dan tidak adanya pengecualian mereka dari serangkaian sanksi dan tindakan tidak manusiawi.
PCHR mengatakan dunia hari ini memperingati "Hari Internasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Namun peringatan tahun ini lebih pas buat perempuan-perempuan Palestina, yang terus menerus mengalami pernderitaan akibat praktek-praktek penjajah dan pelanggaran yang dilakukannya dalam skala besar dan luar terhadap warga sipil Palestina, termasuk perempuan.
PCHR menyatakan ratusan wanita di Jalur Gaza mengalami pengalaman mengerikan, seperti saat menyakskan kematian anak-anak atau suami-suami mereka di depan matanya akibat penggunaan kekuatan secara berlebihan oleh penjajah Israel. Mereka (para wanita Palestina) juga dipaksa oleh penjajah Israel untuk meninggalkan rumah-rumah dan anggota keluarga mereka sebelum rumah-rumah itu dihancurkan dan akhirnya mengungsi layaknya gelandangan tanpa tempat tinggal.
PCHR mengatakan, "blockade Israel terhadap Gaza telah menyebabkan kematian 4 wanita sejak akhir November tahun 2008, setelah mereka dilarang melakukan perjalanan untuk berobat dan kekurangan obat-obatan di rumah sakit Jalur Gaza. Ada ratusan gadis-gadis muda Palestina yang hak pendidikan terampas akibat pemblokiran yang membuat mereka tidak bisa berangkat ke kampus-kampus mereka di negara-negara Arab atau negara asing untuk melanjutkan studi mereka di sana. (seto)
|