Ahmad Abu Ratimah
Usai agresi jahat Israel ke Gaza pada Januari 2009, dua pihak yang bertikai baik Israel atau kelompok perlawanan Palestina mulai meyakini bahwa konfrontasi militer bukan pilihan ideal. Disamping ongkosnya mahal dan diyakini sebagai jalan buntu menuju hasil politik, Israel juga menyadari akan sulit atau bahkan mustahil bisa menguasai militer kelompok perlawanan di Gaza. Ya mereka mampu menghancurkan, membunuh dan mempersulit manusia, namun Israel tidak akan mewujudkan target politiknya. Bahkan Israel akan merasakan dampak secara media, ekonomi dan keamanan.
Faksi perlawanan Palestina pasca agresi Gaza juga menyadari bahwa serangan roket mereka dan aksi ledakan bom ke Israel bukan pilihan yang selamanya. Tindakan perlawanan harus tunduk pada kalkulasi politik pelik yang bisa menentukan titik tolaknya dan bisa meminimalisir krisisnya. Karenanya, ada penurunan drastis dalam serangan roket dari Gaza usai agresi dan penurunan yang sama juga pada aksi permusuhan militer Israel ke Jalur Gaza. Meski tidak ada pernyataan resmi gencatan senjata. Namun tingkat komitmen terhadap gencatan senjata di lapangan lebih tinggi dibanding gencatan senjata resmi yang pernah ada.
Jadi upaya militer Israel selama ini hanya arogansi dan upaya membuktikan kekuatan, kemenangan. Namun sebenarnya usai agresi ke Gaza, Israel sudah kepayahan dalam perang militer.
Kondisi baru hasil perang lalim sedikit memberikan dampak baik kepada Palestina, pemilik hak dan keadilan serta perjuangan yang legal. Kerugian militer Israel di depan mata mereka. Sementara Palestina kini memiliki banyak pilihan yang tidak kalah pentingnya dengan pilihan perlawanan tanpa menganulir hak perlawanan militer yang legal menghadapi Israel.
Bicara pilihan lain selain militer, yang dimaksud adalah perlawanan sipil; unjuk rasa damai, mogok, boikot produk Israel dan upaya menyediakan produk alternatif nasional, perang opini di media TV untuk mengecam penjahat perang Israel, memanfaatkan kesadaran media massa untuk mengkriminalkan Israel dalam bidang HAM, sejarah dan wilayah (batas-batas negara), merancang opini dunia untuk melawan Israel. Semuanya ini tidak kalah pentingnya dengan perjuangan militer. Barang kali kita sepakat di situ.
Tradisi menjadi tameng manusia yang dilakukan oleh komandan Nazzar Rayyan yang mengorbankan dirinya dan nyawanya dan nyawa keluarganya merupakan bentuk perlawanan sipil paling tinggi. Itu juga dilakukan oleh itu rakyat sipil Palestina yang menghadang dengan tubuh mereka yang lemah berhadapan dengan pesawat tempur F16 buatan Amerika agar tidak menyerang rumah-rumah warga Palestina.
Unjuk rasa yang digelar oleh 2000 wanita Palestina yang dipimpin oleh Jamilah Shanti dalam menembus blokade tank-tank Israel terhadap puluhan mujahidin di masjid An-Nasr di Bet Hanon kemudian wanita-wanita Palestina itu mampu membebaskan para pejuang Palestina itu adalah merupakan kebanggaan perjuangan Palestina. Termasuk aksi wanita di perlintasan Rafah membuka pagar perlintasan menembus perbatasan, aksi unjuk rasa di desa Nalaen dan Balaen setiap Jum'at yang diikuti oleh aktivis solidaritas asing menentang tembok rasial adalah contoh perjuangan gigih menentang kecongkakan Israel dengan cara damai.
Demikian juga kapal dan boat-boat pegangkut bantuan kemanusiaan yang berhasil memasuki Jalur Gaza melalui laut meski Israel berusaha menghalanginya adalah bukti kemenangan kemanusiaan atas kekuatan kezaliman dan diktatorisme tanpa menggunakan senjata.
Perlawanan sipil selalu bisa diterapkan dimanapun dan kapanpun berbeda dengan perlawanan militer yang harus tunduk pada kalkulasi politik yang rumit. Perlawanan sipil juga bisa melibatkan semua unsur masyarakat dan melibatkan peran mayoritas dari kalangan wanita dan lelaki. Perlawanan jenis ini menciptakan spirit prakarsa positif dalam jiwa rakyat. Ia juga menjadi dilematis bagi moral Israel, media dan ekonomi mereka, menjadi penekan di level internasional, meraup dukungan dan simpati lebih besar dari kaum solidaritas dunia. Ini menonjolkan sisi moral bagi isu Palestina dimana sisi ini mungkin tidak ada pada serangan roket dan ledakan bom syahid sehingga yang benar seakan bercampur dengan kebatilan dan pejuang Palestina dituding sebagai penjahat perang seperti halnya Israel, seperti yang ditegaskan dalam laporan Goldstone terakhir.
Perlawanan sipil tidak selalu ajakan untuk mengalah dan menyerah. Namun ini adalah jalan terbaik memperdalam krisis moral Israel dan meledakkan konflik kejiwaan mereka di dalam masyarakat Israel. Ketika seorang serdadu Israel membunuh warga Palestina bersejata, maka masyarakatnya akan melihat dia sebagai pahlawan yang membela diri. Namun ketika serdadu itu membunuh seorang warga sipil Palestina yang sedang menanam pohon zaitun atau yang demonstrasi damai maka itu akan menimbulkan konflik kejiwaan yang pahit dalam masyarakat Israel. Bahkan pada kejiwaan serdadu Israel itu sendiri. Dimana data Israel terakhir menyebutkan adanya peningkatan angka bunuh diri di kalangan serdadu Israel pascaperang.
Perlawanan sipil tidak mesti melepaskan diri dari jihad, namun ia salah satu bentuk jihad sebab ia membutuhkan pengorbanan dan nyawa syuhada. Sebab mengatakan kebenaran di hadapan orang zalim adalah jihad besar. Bahkan perubahan dengan cara damai adalah cara yang ditempuh para nabi. “Dan Kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri". (Ibrahim: 12)
Artinya mereka tidak membalas kekerasan dengan kekerasan serupa namun mereka menghadapi peperangan dengan kekuatan moral. Ini falsafah perlawanan sipil.
Adapun peperangan, ia bukan tujuan yang berdiri sendiri. Sebab ketika mewajibkan peperangan, Al-Quran menyatakan, “Diwajibkan atas kalian perang dan ia kalian benci” Sebab seorang mukmin tidak harus menumpahkan darah. Ia tidak akan berperang kecuali kondisi terpaksa karena tidak ada alternatif lain. Ketika di sana ada alternatif yang lebih ringan bebannya namun dengan hasil yang sama maka itu lebih baik.
Perlawanan sipil juga layak dilakukan di manapun, baik dalam menghadapi penjajahan dari luar atau untuk membenahi situasi dan kondisi internal. Penjajahan bukan satu-satunya musuh bangsa. Kerusakan moral, korupsi dan kelaliman di internal Palestina adalah musuh yang tidak kalah bahayanya.
Perlawanan sipil juga tidak kalah efektifitasnya dan menyakitkan musuh Israel. Misalnya komentar salah satu komandan Israel terhadap demo wanita-wanita Palestina yang dipimpin oleh Jamilah Shanti di Bethanon tahun 2006. Ketua gerakan Mairit Israel Yosa Beilin berkomentar, apa yang dilakukan wanita-wanita Palestina itu sangat sebagai aksi melegenda. Bahkan pengamat militer di Harian Haaretz, Jenderal Zaev Shef menyatakan, para wanita itu telah menciptakan sejarah yang dengan berani melakukan aksi perlawanan dengan unjuk rasa yang menyebabkan tiga orang dari mereka meninggal dan lainnya luka-luka ketika ingin membebaskan para warga yang dikepung Israel di masjid. (atb)
|