Cari
Isyarat Perang Mendatang
cetakan E-Mail
Isyarat Perang Mendatang
[ 10/11/2009 - 08:06 ]

Namr Amir

Bukan pesimis atau optimis, kenangan perang Al-Furqan (sebuatan kelompok perlawanan terhadap agresi Israel “Cast Lade” di Jalur Gaza tahun 2008-2009) sudah dekat membuat semua orang bertanya-tanya, apakah ada perang baru??? Apakah Israel akan menggelar agresi lebih brutal ke Jalur Gaza untuk menumpas habis gerakan Hamas dan mengakhiri pemerintahannya di sana agar mengikuti pilihan Israel? Pertanyaan yang menggelayuti di benak pengamat politik atau warga biasa yang mengkhawatirkan kehidupan mereka semakin menderita. Apalagi derita karena imbas agresi masih begitu terasa, baik warga Palestina atau Israel yang sama sekali tidak mampu mewujudkan target agresinya.

Agresi berakhir dengan hasil yang ada. Tak ada orang mengetahui bagaimana bermula dan bagaimana berakhir. Banyak analisis beredar. Namun yang penting adalah bagaimana mengambil pelajaran, menilai hasil dan bersiap untuk langkah ke depan agar kita mampu berdiri kokoh di atas tanah dan bisa meraih hasil target minimal yang kita rencanakan. Itu hanya bisa dilakukan dengan mengetahui kondisi riil di sekeliling kita dan memperkirakan kejadian selanjutnya.

Agresi Israel terakhir ke Jalur Gaza adalah pengalaman pedas namun sekaligus pengalaman bermanfaat dari sisi militer dan keamanan. Pengembangan potensi diri, skil, mengasah kemampuan pasukan, pengembangan pengalaman perang, kemampuan taktik tidak akan diperoleh jika tidak terlibat langsung dalam menghadapi agresi itu. Persiapan mengharuskan kita turun langsung ke medan perang untuk mengetahui sejauh mana kesiapan kita dan kesiapan musuh sekaligus.

Saya terdorong menulis tulisan ini karena sejumlah pengamat dan beberapa pihak menyatakan, Israel tidak ingin menggelar agresi baru karena ketakutan terhadap masyarakat internasional setelah laporan Goldstone. Perang baru akan menimbulkan kehancuran berat yang melebih kerusakan terhadap Jalur Gaza yang kita cintai setelah perang Al-Furqan. Menurut mereka, Israel tidak akan berani melakukan langkah seupa apalagi kekuatan militer mereka tidak akan menghasilkan target mereka seperti di agresi Jalur Gaza.

Menurut penulis, analisis ini hanya emosional tanpa mempertimbangkan kenyataan riil dan politik Israel yang tidak pernah bisa ditebak oleh dunia yang hanya melihat kejadian dengan sebelah mata. Tidak laporan Goldstone tidak pula laporan-laporan PBB atau hal lain yang bisa mencegah Israel, pelaku pembantaian Qabiah, Deer Yaseen, Badawi, Shabra Shatila, Qana, dan Gaza yang berulang-ulang serta menggelar agresi-agresi baru ke Jalur Gaza. Bagi Israel, Jalur Gaza sudah menjadi duri dalam tenggorokan mereka dan tenggorokan banyak negara. Menurut penulis, Israel sudah dekat saatnya untuk menggelar perang spekulasi baru ke Jalur Gaza berdasarkan sejumlah fakta dan data. Diantaranya;

1- Perasaan hebat berlebihan dan egoisme kekuatan sudah menjadi ciri Israel sebagai penyakit turunan yang melekat dalam jiwa mereka sepanjang sejarah. Mereka menilai pihak lain sebagai pihak lemah yang harus tunduk dan loyal kepada mereka. Karenanya, Israel menilai Hamas telah menginjak batas hak-hak Israel dalam memperluas kekuatan di depan bangsa Arab dan Teluk. Bahkan Israel menilai Hamas menjadi entitas berbahaya yang mengancam eksistensi mereka. Karena Hamas berusaha membuat senjata roket jarak jauh yang akan menembus kota Tel Aviv, Dimona, Bersabu. Ini yang membuat Israel tidak akan rela selamanya. Statemen elit-elit Israel pada saat agresi ke Jalur Gaza ketika mereka mengomentari roket Hamas yang sudah sampai ke Tel Aviv dimana mereka tidak akan tinggal diam serta akan menggelar agresi ke sekolah-sekolah, rumah sakit, masjid-masjid. Ini isyarat bahwa Israel akan menempuh cara yang sama untuk memasuki Jalur Gaza dan menguasainya serta mengembalikan Otoritas Palestina di sana agar bisa mencapai target yang pernah gagal mereka raih di agresi sebelumnya.

2- Kondisi politik Palestina dan isyarat Abbas menggelar pemilu di Tepi Barat dan Jalur Gaza sementara ia tahu tidak akan menggelarnya di Jalur Gaza. Ini sebenarnya Abbas ingin mengatakan, siapapun yang menguasai Jalur Gaza adalah keluar dari konstitusi Palestina dan internasional sehingga dunia harus membantunya (Abbas) mengembalikan Jalur Gaza ke tangannnya. Tidak ada jalan terbaik bagi Israel dalam membantu mengembalikan Jalur Gaza ke tangan Abbas kecuali dengan agresi. Namun kali ini akan menunggu penyerahan dunia Arab dan pasukan internasional kepada Israel.

3- Kondisi krisis di Al-Quds dan upaya Israel menguasai kota itu dengan menerapkan rencana dan yahudisasi sementara mereka khawatir akan menghadapi Intifadhah III akan mendorong Hamas melakukan reaksi militer. Pada saat itulah Israel memiliki alasan untuk menghabisi Hamas selamanya. Israel sendiri yakin bahwa tidak ada jalan lain menaklukkan Hamas kecuali dengan agresi.

Data-data inilah yang menegaskan bahwa agresi baru hanya soal waktu. Karenanya, rencana keamanan dan antisipasi harus segera diambil sebab jika Israel mengeluarkan keputusan mereka tidak akan memberikan kesan apa-apa kepada siapapun dan bagi mereka pukulan pertama adalah ukuran kemenangan atau kegagalan dalam agresi.

Karenanya, dengan ketegaran, persiapan matang dan serta siap memberikan pukulan menyakitkan kepada Israel dengan izin Alloh sebab kemenangan adalah kesabaran walau sesaat dan ketegaran. Dimana dengan bekal itu di perang Al-Furqan. Israel akan membayar mahal dalam agresinya mendatang sebab kita sudah menyiapkan diri seperti dalam perang Al-Furqan. Persiapan kita hari ini jauh lebih besar dari sebelumnya. Syaratnya , “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7) (bn-bsyr)

Page Top

 
 
Israel Mau Apa?

Dr. Fayez Abu Shamalah

 



 

Jl. Mampang Prapatan XV no. 15A/3 Mampang Prapatan Jakarta Selatan 12760
Tel. 021-79192705