Al-Quds-Infopalestina : Ketua gerakan Islam di wilayah Palestina jajahan, Syaikh Raed Shalah menegaskan, Israel menghancurkan semua rumah sekitar Al-Aqsha bertujuan untuk mengecoh perhatian dunia atas aksinya di bawah masjid dengan membangun sejumlah terowongan, agar masjid tersebut segera rubuh kemudian diganti dengan sinagog Yahudi. Shalah menegaskan hal ini dalam khutbahnya kemarin Jum’at (21/11) di Kamp A-Basatin, Silwan. Ia menyatakan, berjuang di dalam Baitul Maqdis merupakan kemuliaan yang tak terkira, walau penjara dan penindasan serta pengusiran senantiasa menanti kita. Shalah menyerukan semuanya untuk berwasiatan dengan kebenaran dan kesabaran, walau kezaliman penjajahan dan rumah-rumah hancur berantakan, demi melindungi Al-Aqsha Mubarak. Terkait dengan kebolehan untuk mengambil wilayah Palestina dengan mengatasnamakan agama, Shalah menyebutkan, para pendeta Yahudi sudah biasa menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Mereka membolehkan kemungkaran dan penghancuran. Mereka senantiasa memerangi kebenaran dan membela kebatilan. Semua itu telah terbukti, ungkapnya. Adapun kaitanya dengan wilayah Syaikh Al-Jarrah yang diklaim milik Zionis sejak 1948 dulunya berupa perkebunan dan tanah kosong. Kemudian perwakilan pengungsi internasional membangun permukiman untuk warga pada tahun 1956, maka hari ini atas nama, kitab Taurat mereka mengeluarkan warga Palestina dari rumahnya masing-masing. Di sisi lain, kaitanya dengan penjualan organ tubuh manusia yang diperbolehkan para pendeta Zionis, Syaikh Jarrah mengatakan, barang siapa yang membolehkan menjual hati dan tulang manusia sebagaimana difatwakan sejumlah pendeta yahudi, dimana mereka membolehkan membunuh selain Yahudi, walau itu anak-anak bertentangan dengan semua agama dan piagam internasional. Di sisi lain, Syaikh Shalah mempertanyakan, darimana sumbernya yang membolehkan pembangunan permukiman Zionis di Al-Quds. Jawabnya jelas dari Amerika. Ia mengisyaratkan, dua perusahaan Perancis telah ikut dalam proyek pembangunan bandara di Al-Quds yang telah menggusur permumahan warga di Al-Quds. Shalahpun menganggap Inggris bertanggung jawab atas penghancuran rumah-rumah di Al-Quds. Inggris bertanggung jawab atas penghancuran rumah warga di AL-Quds tahun 1948, yang merupakan cikal bakal penggusuran bangsa Palestina dari Al-Quds hingga saat ini. Inggris telah membuka pintu penghancuran warga dan pengusiran atas mereka. Disebutkan, yang bertanggung jawab atas yahudisasi Al-Quds serta penghancuran Al-Aqsha adalah Zionis dan kaum salibis internasional. Sejak tahun 1948 rakyat Palestina sudah mengkhawatirkan janji-janji dan resolusi internasionel, seperti resolusi tahun 181, 242 atau 338 yang terbukti melanggengkan agresi Zionis, tidak menghentikanya. Saikh Shalah mengatakan, “Kami adalah bangsa yang tak akan menyerah, mati atau menang. Oleh karena itu, penting sekali mendidik anak-anak dan mengajarkan mereka agar cinta pada negaranya”. Diakhir ia menyerukan warga Al-Quds untuk mensosialisasikan distrik Kota Lama dengan Al-Quds, belilah baju dan makanan untuk merayakan hari raya idul Adha. Ia juga menyerukan untuk membentuk delegasi solidaritas untuk mengunjungi warga Al-Quds dan menghidupkan hari besarnya. (asy)
|