Cari
Khairat Asy-Syatir Belajar Kecerdasan Berpolitik dari Hamas
Khairat Asy-Syatir Belajar Kecerdasan Berpolitik dari Hamas
[ 05/04/2012 - 01:04 ]

 

Dr. Fayez Syamalah

Orang cerdas adalah orang yang mau berlajar dari pengalaman orang lain. Orang cerdas tidak akan jatuh dalam jebakan. Ikhwanul Muslimin mau belajar dari saudara-saudara mereka di Palestina. Mereka mengundur pencalonan nama Khairat Asy-Syatir menjadi capres Mesir. IM Mesir sempat ragu-ragu dan menggelar sejumlah pertemuan sebelum membuka pintu persangkaan dan tudingan terhadap mereka sebagai penanggungjawab atas Mesir di era sejarah kebangkitannya. Sampai mereka menentukan sikap dan sepakat, masih banyak pula yang meragukan keputusan mereka.

Lantas bagaimana pengalaman Hamas di Palestina?

Hamas pernah menolak terlibat dalam pilpres Palestina. Alasan saat itu mungkin mirip dengan alasan yang memaksa Partai IM menunda pengajuan capres Mesir. Hamas membiarkan Mr. Abbas mencalonkan presiden tanpa memberikan tantangan berarti. Ia akhirnya memenang bursa demokrasi tanpa pesaing nyata. Namun Abbas paham dirinya tidak memenang atas siapapun.

Sebaliknya, Hamas ikut dalam pemilu legislatif Palestina yang bersih dan memenangkan dengan prosentase suara yang tidak kalah dengan perolehan total suara partai-partai Islam di Mesir. Ini pesan yang menegaskan bahwa jantung yang berdenyut di dalam dada bangsa Arab Islam dari barat hingga timur adalah jantung satu orang. Hamas memenangkan pemilu legislatif dengan suara mayoritas. Namun Hamas jatuh dalam pengalaman demokrasi di lapangan. Ia jatuh tatkala presiden kesepuluh Palestina (Abbas) tidak mempedulikannya. Abbas bersikap seakan Hamas tidak ada. Hamas gagal menerjemahkan suara pemilih di lapangan dan gagal mewujudkan sikap politiknya. Hingga akhirnya Abbas melakukan perundingan dengan Israel seakan tidak ada parlemen di Palestina yang dipilih rakyat. Bahkan presiden Abbas sampai akan membubarkan parlemen Palestina. Kalau partai IM Msir menengok kantor parlemen Palestina di Ramallah, maka mereka akan menemukannya seperti pohon tumbang. Ketua parlemen Palestina Dr. Aziz Duwaik harus meringkuk di tahanan setelah ia dilarang masuk ke gedung parlemen Palestina.

Tidak ada cacat bagi IM ketika terlambat mengajukan capresnya. Namun menjadi aib bila mereka tidak segera membenahi kesalahan dan tidak meminta maaf kepada capres Abdul Mun’im Abul Fatuh yang mendahului mereka dalam visi misi, menerawang masa depan.

Cukuplah disebut Abdul Mun’im sebagai pemimpin yang tidak pernah mendustai keluarganya. Dialah pemimpin karena keterkaitannya dengan jamaah ini. bukanlah yang cerdas adalah Abul Fatuh sebab yang terpenting bagi bangsa Arab dan umat Islam adalah bersihnya ‘sumber air yang diminum’ oleh calon-calon presiden dan kebersihan sikap-sikap politiknya. (bsyr)

Page Top

 Palestina dalam Tayanggan Slide