Cari













 
 

 
 
 























 
Lintas Peristiwa
05 September
2006
Beberapa kelompok dari aparat keamanan dan ‘Fatah’ menyerang kantor parlemen Palestina di Gaza dan melepaskan tembakan ke dalam gedung sambil merusak perabotan yang ada di dalamnya serta melempari wartawan dengan batu
2006
Seorang pemukim Yahudi terluka parah setelah ditusuk oleh pemuda Palestina di daerah Atrot sebelah utara Al-Quds (terjajah)
2003
Seorang pejuang asal Brigade Al-Qassam, Muhammad Abdurrahim al-Hambali, mahasiswa S2 di fakultas tekhnik Universitas Negeri an-Najah, gugur syahid setelah terlibat baku tembak dengan pihak Zionis Israel di barat kota Nablus. Dalam peristiwa itu sendiri dua serdadu Zionis tewas dan empat lainnya luka-luka
2001
Nabel el Barghothi gugur syahid dalam sebuah aksi bom syahid di kota Al-Quds (terjajah) yang melukai 13 orang Yahudi
1980
Direktorat Kepemukiman Yahudi mengumumkan adanya proyek pembangunan bagi 70 pemukiman Yahudi baru di wilayah Tepi Barat
1973
Delapan pelaku aksi bom syahid berhasil melakukan aksi yang kemudian dikenal dengan "Aksi Munich". Mereka berhasil menyandera tim Olimpiade Israel yang terdiri dari 11 atelit di sebuah pesawat dan meminta tebusan agar 200 pejuang Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel segera dilepaskan. Namun, pihak pasukan khusus Jerman dan Mossad berupaya menggrebek pesawat, sehingga kesebelas atelit itu tewas dan semua pelaku aksi berani itu gugur syahid
1969
Aksi "Bumi Suci" yang merupakan aksi paling besar yang diikuti oleh mujahidin kamp militer el Shuyukh, masih tetap berlangsung
... arsip
Gerakan Islam dan Pencarian Jati Diri
Gerakan Islam dan Pencarian Jati Diri
[ 04/04/2012 - 02:49 ]

 

Tsamir Sabaginah

Musim semi Arab di kawasan mulai membuahkan sejumlah perubahan dan pergantian di latar politik Arab. Perubahan paling kentara adalah naiknya gerakan Islam ke puncak kekuasaan dan pemerintahan di sebagian besar negara-negara dimana revolusi dimenangkan. Mungkin penyebab keberhasilan Islam ini beragam, namun keberhasilan itu tidak berarti aman dari berbagai masalah. Terutama kelompok Islam mengalami transformasi dari penjara ke kursi pimpinan pemerintahan dan kabinet. Ini bukan masalah sederhana.

Keberadaan Islam di penjara rezim masa lalu berupa penyiksaan dan marginalisasi. Hal ini menyebabkan mereka meraup simpati dari publik Arab. Ketika merasa berada di pucuk pimpinan politik, mereka akan selalu dinilai baik oleh publik. Demikian halnya, gerakan-gerakan Islam telah telah bertransformasi dari lingkup struktur sistem terbatas kepada lingkup nasional lebih luas hingga kepada lingkup internasional yang tidak terbatas. Ini menuntut restrukturisasi atas urusan mereka kembali agar gerakan Islam tetap berada dalam rujukan Islamnya yang jelas.

Masalah paling besar yang muncul di permukaan adalah bahwa kelompok Islam telah melawati proses meyakinkan barat lebih dari yang dibutuhkan terkait dengan maslaah umat, terutama masalah Palestina. Namun tidak seharusnya hasil dari sikap meyakinkan ini adalah menimbulkan keresahan di kalangan simpatisan dan pendukung kelompok Islam atau menghilangkan kepercayaan dan kredibilitas. Kemudian di sana sejumlah tindakan dan sikap yang bisa diambil untuk membela Palestina. Namun itu tidak berarti terburu-buru menggelar konfrontasi dengan Amerika dan Israel. Sebab, sejumlah kesulitan yang dihadapi mereka yang bisa mendorong mereka meyakinkan sejumlah pihak internasional. Mereka memiliki potensi untuk menggentarkan dunia.

Realita baru dan tingkat harapan yang diemban oleh bangsa-bangsa menjadikan tugas aktivis Islam adalah tugas berat. Namun dia tidak mustahil. Apalagi gerakan-gerakan Islam menyatu dengan cita-cita bangsa sehingga menjadi kuat dan mampu memberikan kontribusi. Jika gagasan dan visinya Islam jelas , maka tidak seharusnya ia terjebak dalam sandera teritorial dan lokal atau tawanan perubahan dimana akan menghilangkan kepercayaan publik terhadap gerakan Islam.

Gerakan Islam hari ini membutuhkan sikap serius untuk mengevaluasi perjalanannya dan kembali menformat visi misinya untuk mengurai potensi dan kansnya di latar dunia lokal, regional dan internasional. Ini agar mampu memberikan benteng jati dirinya dan mengarahkan perjalanannya dan meluruskan jalannya. Sehingga ia akan memiliki kompetensi menghadapi tantangan di fase mendatang. Ini artinya, kebutuhan terhadap reotentikasi dan perundangan sikap gerakan Islam dan poltiknya terhadap sejumlah masalah sentral baik yang dalam negeri atau luar negeri. (bsyr)

Page Top