Cari
Setelah Sekutu dan Sahabat Meragukan Hamas
Setelah Sekutu dan Sahabat Meragukan Hamas
[ 25/04/2012 - 03:32 ]

 

Ra'fat Murrah

Belakangan ini, Hamas diterpa gelombang kritikan dan “diragukan” dalam sikap-sikapnya serta manuvernya karena sejumlah peristiwa yang terjadi di kawasan.

Misalnya, pengurangan intensitas keberadaannya di Damaskus dan sikapnya yang berpihak terhadap krisis di Suriah, kunjungan pimpinannya ke Amman, Doha dan Ankara serta deklarasi Doha yang menegaskan penugasan kepada Mahmud Abbas untuk memimpin pemerintah Palestina transisi yang akan dibentuk pasca pemilu, naiknya Ikhwanul Muslimin ke pucuk pimpinan di Tunis, Mesir dan negara Arab lainnya, juga sikap sebagian elit Hamas di Gaza yang menyatakan bahwa gerakannya tidak akan membela Iran jika diserang oleh Amerika atau Israel.

Sayangnya, gerakan “meragukan sikap” dan tudingan dari sejumlah pihak kepada Hamas ini dikaitkan dengan hubungan historis dan strategi dengan gerakan perlawanan Islam ini. Sejumlah pihak yang menuding ini memiliki hubungan politik kuat dengan Hamas dan antara memiliki hubungan koordinasi kuat antara mereka. Pihak-pihak yang mengkritik Hamas itu membaca dan mengamati penuh sikap strategi Hamas dan memahami dengan baik proyek perlawanan yang diemban oleh Hamas. Mereka memiliki banyak pengetahuan terhadap sikap-sikap politik Hamas terdahulu yang berpegang teguh dengan proyek perlawanan, pembebasan dan hak kembali, dan menolak segala bentuk penyelewenangan hak nasional Palestina. pihak-pihak ini juga memiliki pemahaman dan dukungan baik dan besar terhadap usaha yang dikerahkan oleh Hamas untuk memperbaiki kondisi militernya untuk terus melakukan perlawanan, meningkatkan perbekalan peperangannya untuk menghadang permusuhan Israel di masa mendatang yang pasti akan akan terjadi, setelah mereka mengambil pelajaran dari pengalaman serangan Israel ke Jalur Gaza tahun 2008. Pihak-pihak yang mengkritik itu mendukung program persenjataan dan pelatihan militer Hamas, juga sikap-sikap politiknya yang akhirnya berakhir pada penegasan Hamas untuk membebaskan Palestina, mengembalikan pengungsi Palestina dan menolak mengakui negara penjajah Israel.

Perkembangan dan sikap ini tidak bisa disembunyikan oleh Hamas dari sekutu-sekutunya. Bahkan selama ini Hamas menjadikannya sebagai bentuk permanen sikap-sikapnya dalam setiap fase dan itu dijelaskan kepada mereka baik pada saat kunjungan khusus atau pertemuan-pertemuan yang mendorong elit Hamas untuk mempersiapkan setiap kejadian. Khalid Misyal sebagai kepala biro politik yang lebih banyak melakukan tugas ini.

Yang menarik adalah karena keragu-raguan ini justru keluar dari kekuatan dan kelompok yang kebanyakan memiliki hubungan kuat dan terpercaya dengan Hamas. Bahkan memiliki hubungan kerjasama strategis atau kerjasama permanen.

Kerjasama ini sudah lama dan dibangun di atas prinsip dan landasan-landasan serta berdasarkan kepentingan bersama yang sangat banyak. Hubungan itu pun sudah teruji dalam banyak fase dan dibuktikan memiliki kekuatan bahkan menjadi target musuh untuk dihancurkan. Sayangnya, kekuatan dan kelompok ini menyampaikan sikapnya tanpa menunggu penjelasan sikap dari Hamas, tanpa mengetahui hakikat alasan sikapnya, tanpa melihat apa yang terjadi di Damaskus dan Amman. Atau kenapa mengumumkan deklarasi Doha atau apa latar belakang dan konteks hubungan antara Hamas dan Turki serta esensinya. Karena itu tidak bisa dipahami tudingan dan peragu-raguan ini.

Jika keraguan ini muncul dari analisis politk yang menyimpulkan perubahan sikap strategi Hamas maka ini analisi yang salah karena sejumlah alasan:

1.      Gerakan Hamas tidak pernah mengubah strateginya dan tujuan-tujuannya dan garis politiknya yang didasarkan kepada perlawanan dan menolak penjajahan secara mutlak. Perubahan ini itu tidak akan terjadi dalam prinsip permanen Hamas. Perubahan program Hamas, rencana dan prioritasnya bukan masalah rahasia dan tidak mungkin bisa disembunyikan. Jika terjadi di dalam sebuah institusi pimpinan Hamas, dan memiliki pendukung – jika diasumsikan – maka akan ada banyak orang yang menentang. Mereka tidak akan tinggal diam untuk menggantikan proyek atau mengubah arah kompas atau mengubah strategi yang dibuat oleh Hamas.

2.      Itu di bidang strategi. Adapun di bidang taktik, analisis politik praktis dan obyektif menunjukkan bahwa tidak akan terjadi perubahan politik atau perubahan esensial dalam sikap-sikap pihak-pihak asasi yang terkait dengan konflik di kawasan yang mendorong Hamas untuk mengubah sikap dan pendekatannya.

Amerika Serikat dan Israel tidak akan melakukan perubahan dalam pendekatan politiknya. Lantas kenapa Hamas harus mengalah sekarang. Padahal Hamas pernah tegar dalam kondisi paling sulit yang pernah dilalui. Misalnya pada tahun 1993, pada saat perjanjian Oslo diteken atau antara tahun 1994-1997 yang mengalami usaha pembumi hangusan Hamas secara sempurna. Termasuk pada konferensi anti terorisme tahun 1996 di Syarm El-Syaikh yang dideklarasikan perang atas perlawanan di kawasan (Hamas dan Timteng). Termasuk fase penghancuran dari akar-akarnya antara tahun 2005 – 2007 yang diterapkan oleh Otoritas Palestina di Tepi Barat bekerjasama dengan penjajah Israel dan 15 badan keamanan baik dari barat dan sejumlah negara Arab. Termasuk fase tahun 2008 dimana Hamas mendapatkan serangan operasi Cast Lade dimana warga Palestina dan Hamas mampu bertahan dan menggagalkan rencana serangan Israel itu.

  Jika Hamas bertahan tegar di hadapan segala gelombang, kenapa Hamas harus mundur dan mengalah atau berpaling padahal popularitas dan kemampuan politik dan militernya makin baik di banding sebelumnya. Semantara Otoritas Palestina telah memberikan konsesi yang begitu besar dan tidak terjadi apapun. Semua pun tahu akan hal itu.

Sikap keragu-raguan dan kritikan terhadap Hamas terjadi akibat dua kemungkinan tidak ada kemungkinan ketiga:

1-      Adanya keinginan semput dan kepentingan kelompok.

2-      Adanya analisis politik yang salah dan tidak memahami secara akurat terhadap pendekatan Hamas.

Jika kedua faktor ini bersatu, maka kita berada pada realita sulit dimana kelompok pengkritik itu justru ingin membidik Hamas. Sehingga yang terjadi adalah krisis di dalam kelompok itu bukan dalam internal Hamas.

Namun apa pasca keraguan-raguan dan kritikan ini? Ada tiga alternatif:

1.      Bertahan dalam kondisi ragu-ragu dan menuding Hamas. Ini berarti akan keluar sikap nagatif terhadap Hamas.

2.      Berpindah dari sikap memusuhi lebih kuat kepada Hamas dan menentangnya. Namun pilihan ini akan memakan biaya politik dan popularitas dan tidak memperhatikan data-data terkait. Mereka akan berhadapan dengan Hamas dan publik Palestina, Arab dan Islam.

3.       Kembali kepada fase sebelumnya dimana mereka saling memahami sikap Hamas.

Tidak mungkin mengetahui bagaimana sikap Hamas itu diambil dan kemudian disimpangkan dan disalah pahami hanya karena mendengar statemen dari pejabat Hamas.

Pendekatan dan prinsip permanen Hamas terhadap perlawanan, bumi Palestina, perdamaian, penolakan mengakui penjajah Israel, hak kembali, semuanya masih dipegang teguh oleh Hamas sejak 24 tahun lalu. Dalam konferensi terakhir 2012 Hamas menegaskan hal itu. Dan Hamas tidak pernah berubah sikap. (bsyr)

Page Top

 Palestina dalam Tayanggan Slide