Muhammad Wathd (Aljazeera.net, 6 Februari 2010) Kegagalan Israel dalam rencana yahudisasi Galiel dan Naqab dengan menarik yahudi tinggal di sana, termasuk di Golan mendorong Benjamen Netanyahu merencanakan permukiman militer di sana. Israel pernah menempuh hal yang sama di Tepi Barat dan Jalur Gaza untuk ekspansi pengaruh dan intensivitas eksistensi yahudi. Rencana kali ini ekspansi dan mendorong pemukiman yahudi di Galiel dan Naqab. Masing-masing personel militer Israel diberi diberi gratis seperempat hektar yang harganya 50 ribu dolar namun dengan syarat mau tinggal di Naqab, Golan atau Geliel. Rencana lima tahun ini akan diawali dengan pembangunan 1000 unit tempat tinggal di Geliel dan Naqab dan di Golan yang akan terbagi dalam 12 pemukiman. Hal ini ditegaskan aleg Palestina di Knesset Israel, Barakat menegaskan Israel akan menggelar kejahatan tersebut di atas. Ia menambahkan Mayoritas wilayah Arab disita Israel sepanjang 61 tahun sebagai politik represif rasis. Rencana Israel ini bertujuan menggagalkan tuntutan Palestina di Naqab yang ingin wilayah mereka diakui Israel. Dosen hukum tata kota dan bangunan Qais Nasher menegaskan, “Kita bicar soal tanah yang disita Israel dari warga Palestina asli dengan cara sewenang-wenang seperti alasan kepentingan umum, atau dianggap milik orang yang ada di tempat (karena diusir Israel) atau dianggap milik negara (Israel)”. “Tindakan Israel membagikan tanah kepada pasukannya bertentangan dengan hukum internasional yang melarang merampas tanah milik pribadi”. Tegasnya. Ketika menggusir rumah warga Arab Palestina, Israel beralasan bangunan itu tidak memiliki izin. Pada saat yang sama Israel pura-pura tidak tahu pembangunan pemukiman yahudi yang dibangun setelah izin setelah tahun 1948. Aleg Masud Ghanyim, Israel melakukan politik rasis dan dlalim terhadap warga Arab ’48 dari penyitaan, melarang membangun di wilayah Arab. “Ada pembangunan ilegal oleh yahudi mencapai 45 persen tanpa ada penggusuran dari Israel.” tegasnya. Sementara bangunan Arab yang tidak berizin dianggap Israel sebagai ancaman keamanan dan perang dingin yang harus dihadapi dengan kekuatan militer dan buldoser. “Bangunan tanpa izin oleh warga Palestina karena Israel mempersempit lahan mereka. sekarang ini saja mereka hanya memiliki 3,5 persen wilayah keseluruhan padahal warga Palestina di wilayah ’48 ini mencapai 22 persen dari penduduk di Israel” tegasnya. Sejak tahun 1948, sudah dibangun 600 wilayah Israel setingkat kecaman di tanah milik warga Palestina. Namun sejak itu tak ada satupun wilayah Arab baru didirikan. Jamal Zahaliqah, Israel berusaha menguasai wilayah Arab ’48 secara demografi dan geografi. “Kami mengerahkan segala kemampuan kami baik di level peradilan dan parlemen. Yang kami miliki hanya membela tempat tinggal kami dengan badan kami. Badan perencana pemerintah penjajah Israel adalah lembaga paling berbahaya dan paling buruk yang kami hadapi” tegas Zahaliqah. (bn-bsyr)
|