Cari
Yahudi, Bangsa Asing di Palestina
cetakan E-Mail
Yahudi, Bangsa Asing di Palestina
[ 15/09/2008 - 03:51 ]

Dr. Fayiz Abu Shamalah

Mereka merasa tak ada tentara yang mengusir, tak ada keberanian Arab meski hanya sekedar mengancam memerangi negara mereka, Israel, tanpa ada ancaman pemutusan hubungan serius. Perpecahan Palestina cukup menenangkan Yahudi, termasuk gencatan senjata di Jalur Gaza, juga ketenangan kondisi di Tepi Barat, berlanjutnya perundingan yang membuat Israel makin berani mempeluas permukiman, membangun tembok pemisah, memperkuat blokade sehingga mereka semakin bisa mengembangkan ekonomi. Pendapatan perkapita meninggakat hingga 30 ribu USD pertahun, berdasarkan laporan bank internasional tahun 2007 dibanding hanya 800 USD di Palestina, 1600 USD di Mesir. Namun Israel tetap merasa asing di negara mereka berdasarkan polling yang dilakukan Pusat Studi Perdamaian di Tel Aviv.  Sebanyak 81 persen warga Yahudi di Israel tidak yakin bahwa negara mereka akan mampu membaur secara politik dalam dekade ke depan di Timteng. Jajak pendapat menegaskan, 63 persen Yahudi memilih bagian dari negara barat sementara 79 persen mereka merasa gelisah dengan kondisi Israel sekarang.

Hasil jajak pendapat ini patut dijadikan studi. Seharusnya hal ini membuat para politisi perundingan Palestina di Ramallah merevisi pemikiran mereka. bahkan patut menjadikan politisi di Jalur Gaza untuk tidak terus melakukan gencatan senjata. Semua Palestina harus kembali mengkaji pentingnya menghentikan perpecahan internal Palestina. Hasil poling ini mengungkap kondisi kejiwaan Yahudi yang takut di masa depan mereka, ingin kabur dari kehidupan sejahtera mereka. padahal Yahudi sedang membangun teori pemikiran, jiwa, nurani melalui ajaran-ajaran Yahudi dimana harus diyakini bagi bahwa Palestina adalah pelampiasan kelezatan ruh mereka, ketenangan jiwa dan rehat abadi yang selama ini terusir dari negara manapun. Namun di Palestina, Yahudi belum tenang dan stabil. Mayoritas mereka masih merasa sebagai pendatang di Palestina.

Yahudi di Palestina sudah mempelajari pengalaman kaum salib dan penyebab mereka terusir dari kawasan itu. Para ahli hikmah Yahudi menyimpulkan bahwa kesalahan kaum salib karena mereka meninggalkan barat dan membaur penuh dengan kehidupan timur, padahal ini tempat mati mereka.

Setelah ratusan tahun, 63 persen Yahudi di Palestina masih merasa bagian dari barat, 61 persen merasa memiliki kesan nagatif di Timteng. Dalam jajak pendapat ini Yahudi mengatakan, Timteng adalah wilayah orang gila, mereka merasa tuhan menolong mereka. Apakah maknanya, ketidakpembauran Yahudi di Timteng adala bagian dari rencana jaminan keberlangsungan dan menjaga keistimewaan Israel dari wilayah sekitarnya? 

Menurut penulis, kegelisahan yang menimpa 79 persen Yahudi adalah jawaban kontradiktif dari hal di atas. Sebab jajak pendapat itu mengisyaratkan bahwa 32 persen saja Palestina di wilayah 1948 memiliki kesan negatif dari negara mereka, meski kezaliman meliputi mereka.

Apakah ini ada kaitan antara kekalahan tentara Israel di tangan perlawanan di selatan Libanin dan selatan Palestina dengan impian Yahudi?? (bn-bsyr)

Page Top

 
 
Israel Mau Apa?

Dr. Fayez Abu Shamalah

 



 

Jl. Mampang Prapatan XV no. 15A/3 Mampang Prapatan Jakarta Selatan 12760
Tel. 021-79192705