Cari
Lintas Peristiwa
06 September
2006
Empat prajurit Brigade Al-Qassam gugur syahid dalam dua aksi kejahatan yang dilakukan oleh pesawat-pesawat tempur milik Zionis Israel di kota Rafah, selatan Jalur Gaza. Keempat syahid itu adalah; Ali Isa el-Nashar, Aed Abdul Qader el-Boshaeti, Ahmad Abdul Karem Ashor dan Muhammad el-Erqan
2006
Seorang pejuang Al-Qassam, Muhammad Abu Raedah gugur syahid dan tiga lainnya luka-luka oleh tembakan pasukan Zionis Israel saat menyerang ke daerah Khuza’ah sebelah timur kota Khan Yunis
2003
Tokoh spiritual dan pendiri Hamas, Syeikh Ahmad Yasin dan Ismail Haneya, kepala kantor Syeikh Yasin berhasil lolos dari percobaan pembunuhan yang dilakukan Zionis Israel dengan menembakkan ke bangunan bertingkat dua di kota Gaza menggunakan pesawat F-16. Saat itu Syeikh Yasin sedang berkunjung ke seorang penduduk Gaza. Akibat peristiwa itu, beliau hanya terluka ringan
2003
Seorang pejuang Al-Qassam asal penduduk kamp Jabaleya, Khalid Mas’ud (28) gugur syahid setelah bertarung dengan penyakit yang ia derita akibat luka tembak yang dilakukan pesawat tempur Zionis Israel
2003
Abu Mazen mengajukan pengunduran dirinya sebagai perdana menteri di depan parlemen Palestina
2001
Dua pemuda Palestina gugur syahid setelah mobil yang mereka naiki ditembak pesawat Zionis Israel di jalan di kota Tulkarm sebelah utara Tepi Barat. Kedua pemuda itu kader dari Fatah, masing-masing bernama Umar Subh (22) dan Mustafa el-Anbush (24) dari Tulkarm
1970
Dewan Liga Arab mengajukan undangan untuk mengadakan rapat darurat membahas kondisi di Yordania dan menghentikan pertikaian antara warga Palestina dengan Yordan
1969
Dewan nasional Palestina kembali memilih Yaser Arafat sebagai ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO)
... arsip
Waktu Tidak Berpihak Pada Israel Selama Terus Konflik dengan Palestina
cetakan E-Mail
Waktu Tidak Berpihak Pada Israel Selama Terus Konflik dengan Palestina
[ 01/02/2010 - 04:50 ]

Oleh: Wolfgang Penc, Direktur Pusat Studi Anti-Semit di Berlin

5 persen warga Jerman memiliki perasaan dendam terhadap Yahudi dan itu mereka ungkap terang-terangan dengan mendukung musuh-musuh Israel.

Keberadaan Pusat Studi Anti-Semit sempat membuat resah salah satu remaja dewasa di Jerman. Beberapa saat lalu ia mengirim tiga pucuk surat tulisan tangan kepada penulis dan mengungkapkan pendapat “negatif” tentang yahudi. Seperti remaja lainnya meyakini bahwa Pusat Studi Anti-Semit adalah lembaga pemerintah atau minimal mendukung pemerintah. Ada yang juga yang meyakini lembaga ini bagian dari komunitas yang berjuang melawan musuh Israel.

Ada banyak faktor kenapa Lembaga Studi ini dibuat di Jerman. Fenomena anti-semit dan gambaran Israel di mata opini publik membuat kita memperhatikannya dan melakukan studi.

Lembaga ini bersifat akademisi bukan politik, termasuk membahas Holocaust hingga kebencian Yahudi saat ini kepada kaum muslimin.

Remaja itu mengatakan dalam suratnya, “Anti-semit mencakup seluruh jenis kebencian terhadap Yahudi tanpa dibatasi batas waktu dan tempat, sejak sejarah klasik hingga modern, adri Martin Leuter bapak protestan hingga Ahmadinejad.

Orang bijak mengatakan, anti-semit adalah struktur pemikiran yang ada dalam semua masyarakat. Mereka ingin mengeluarkan yahudi dari masyarakat itu. Mereka yakin yahudi berdosa di antara operasi Cast Lade yang membantai warga Palestina di Jalur Gaza.”
Sejarah saat ini tidak berpihak kepada Israel selama mereka konflik dan memusuhi Palestina. Kedubes Israel di Berlin sudah lama menerima telepon dari warga di sana bahwa mereka membenci yahudi entah itu dengan ungkapan “Israel pembunuh massa” terus “kami akan membuat perhitungan dengan kalian” hingga “kalian harus enyah dari permukaan bumi”.

Tak perlu basa-basi; sekitar 5 persen warga Jermah selalu merasa dendam terhadap Yahudi dan itu mereka ungkap terang-terangan dengan mendukung musuh-musuh Israel. Ini data tidak menggembirakan meski kuran dari separuh Eropa.

Krisis demokrasi dan kesadaran politik lebih membuat Jerman terpukul dibanding krisis ekonomi. Realitas bahwa ekstrim kanan mampu membuat peristiwa gempar namun itu tidak akan mempengaruhi tindakan politik adalah bukti bahwa Jerman bukan negara demokrasi yang nyaman.

Problem yang dihadapi Jerman sejak lama adalah diskriminasi social terhadap pemuda muslim pendatang. Ini adalah kesalahan mutlak sebab mereka tidak diterima dan tidak diberi harapan oleh masyarakat. (bn-bsyr)

Page Top

 
 
Israel Mau Apa?

Dr. Fayez Abu Shamalah

 



 

Jl. Mampang Prapatan XV no. 15A/3 Mampang Prapatan Jakarta Selatan 12760
Tel. 021-79192705